5 Syarat Menjadi Penulis

Oleh: DR. Jamal Ma’mur Asmani, MA*)

Jamal Ma'mur Asmani (Foto Dok. zawa.ipmafa.ac.id)
Jamal Ma’mur Asmani (Foto Dok. zawa.ipmafa.ac.id)

Menulis adalah ketrampilan (skill). Jadi syarat utamanya adalah latihan terus-menerus, tanpa kenal lelah, dijadikan sebagai teman hidup, sampai titik darah penghabisan. Ingat kitab Ibanah al-Ahkam, syarahnya Bulughul Maram, baru dapat dua juz, mushonnifnya meninggal, dan lalu diteruskan oleh penerusnya sampai selesai. Atau Imam Jalaludin al-Mahalli yang mengarang kitab tafsir hanya mampu menuliskan dari surat al-Fatihah sampai surat al-Isra’ kemudian meninggal, lalu diteruskan oleh Imam Jalaludin al-Suyuthi dari surat al-Kahfi sampai selesai yang terkenal dengan nama Tafsir Jalalain.

Menulis dijadikan sebagai profesi, itulah menurut saya kunci sukses menjadi seorang penulis profesional, baik menulis sastra, karya ilmiah, dan lain-lain. Sebagaimana profesi yang lain seperti pedagang, petani, artis, politisi, pengacara, dan apapun namanya, kalau mau sukses harus ada cita-cita menjadi orang sukses (himmah), ada kerja keras (ijtihad), ada visi-misi yang kuat (nadhrah al-hayat al-mutaqbalah al-qawiyyah), loyalitas (mulazamah) dan kontinuitas (mudawamah-muwadhobah).

Proses adalah waktu yang dibutuhkan penulis untuk menemukan bentuk, gaya, dan tipe tulisannya sendiri sesuai dengan watak, karakteristik, dan kecenderungannya. Penulis adalah seorang yang independen, tidak mau diintervensi oleh pihak luar, ia menulis dengan hati dan pikiran, mengekspresikan apa yang ada dalam sanubari dan pikirannya.

Menurut saya, setidaknya ada 5 syarat menjadi seorang penulis:

Pertama; rajin dan kuat bacaannya. Menulis hakikatnya adalah mengeluarkan isi pikiran, kalau isi kepala kosong maka tulisannya juga kosong, kalau sedikit juga sedikit, kalau banyak, juga banyak. Membaca buku, koran, majalah, mengikuti informasi di website (internet), membaca perilaku politisi, menonton secara seksama acara dialog dan berita di TV, adalah kegiatan yang harus dilakukan oleh penulis. Dari sinilah inspirasi datang.

Cara menghindari kejenuhan membaca adalah: jadikan buku sebagai makanan, kalau makanan biasa adalah konsumsi jasmani, maka buku adalah makanan rohani, kalau tidak membaca rohani menjadi kering, tidak kaya ilmu, dan miskin inspirasi.

Kedua; jadikan menulis sebagai kebutuhan. Motivasinya jangan materi, tapi kepuasan rohani, wahana ekspresi diri, dan sarana berdakwah.

Ketiga; semangat pantang menyerah. Tidak menggantungkan kesuksesan dari dimuatnya sebuah tulisan di koran, majalah, tapi proses yang terus dijalani; apa artinya dimuat sekali, lalu selesai, lebih baik tidak dimuat 500 kali, tapi terus berlatih, suatu saat ketika dimuat, banyak penerbit yang tertarik, karena Anda sudah lama berproses.

Dr. Jalaludin Rakhmat dalam sebuah seminar bercerita bahwa di Barat pernah ada orang yang terus-menerus membuat artikel dan mengirimkannya ke berbagai media massa. Sayangnya, ribuan artikel yang ia buat, tak satu pun yang dimuat. Namun ia terus berkarya seakan tidak pernah mempedulikan apakah artikelnya diterbitkan atau tidak.

Suatu hari ia mengirimkan artikelnya yang ke-1501 (sebuat saja demikian, jumlah pastinya tidak tahu), tak disangka artikelnya itu terbit di media ternama. Banyak orang yang memuji artikelnya, wajah baru tapi gaya penulisannya menarik dan padat. Akhirnya banyak media lain yang mengharapkan artikelnya. Ribuan artikel yang pernah dikembalikan oleh berbagai media massa, direvisi dan diketik ulang untuk dikirim kembali, ternyata hampir semuanya diterbitkan. Andaikan ia berhenti di artikel yang ke-1500, tentu ceritanya lain.

Keempat; fokus pada spesialisasi ilmu yang dimiliki. Di tengah lautan spesialisasi saat ini, media pasti lebih memilih tulisan yang lebih mendalam kajiannya, baik keluasan literatur, ketajaman analisis, nuansa perbandingan, konklusi, dan tawaran solusinya. Dengan menekuni bidang kita (agama, sosial, budaya, sastra, politik, hukum, pendidikan), di samping kita akan menjadi pakar di bidang ini, tulisan kita juga semakin berbobot.

Kelima; memahami visi media. Jawa Pos dan Suara Merdeka tentu visinya beda. Jawa Pos bersifat nasionalis, konsen pada bisnis; Suara Merdeka, walau skala nasional, tapi lebih konsen pada Jawa Tengah.

Kompas visinya memberdayakan rakyat kecil. Republika bernuansa keislaman. Tulisan yang berwatak nasionalis larinya ke Jawa Pos/Kompas, berpihak pada rakyat ke Kompas, berpihak ke Jawa Tengah ke Suara Merdeka, tentang keislaman ke Republika. Begitu juga majalah. Kalau Horizon untuk sastra, Tashwirul Afkar untuk pemikiran keislaman dan kebudayaan.

Semoga bermanfaat!*

*) DR. Jamal Ma’mur Asmani, MA, penulis produktif, peneliti Fiqh Sosial Institute Staimafa Pati, pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (asosiasi pondok pesantren NU) Jawa Tengah.

(Sumber tulisan: dikutip dari makalah “Menulis, Jembatan Menjadi Seorang Pemikir dan Intelektual Masa Depan” oleh Jamal Ma’mur Asmani yang disampaikan dalam diskusi kepenulisan Forum Silaturahmi Penulis Grobogan (FSPG) di Aula Sanggar Pramuka, Jl. Bhayangkara, Purwodadi, Grobogan).

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *