Teknik Menulis Novel Berkualitas

30 Agustus 2019 - Kategori Blog

Resensi dimuat di Jawa Pos Radar Madura edisi Sabtu, 24 Agustus 2019

Data Buku:

  • Judul: Jurus Jitu Menulis Novel Bermutu
  • Penulis: Wiwid Prasetyo
  • Penerbit: Hanum Publisher
  • Tahun terbit: Cetakan 1, Juli 2019
  • Ukuran: 13,5 x 20 cm, xii + 143 halaman
  • ISBN: 978-623-90396-4-6

Kiat menulis cerita bermutu memang bukan hal baru, baik dalam bentuk seminar, kelas menulis online, hingga buku bertema motivasi. Sebut saja pasangan penulis Isa Alamsyah dan Asma Nadia yang kerap mengadakan workshop kepenulisan, atau buku Menulis itu Gampang karya mendiang Arswendo Atmowiloto. Namun tentu saja, setiap penulis memiliki resep tersendiri sesuai proses kreatif mereka dalam meramu cerita yang menarik minat pembaca. Lewat buku ini, Wiwid Prasetyo yang telah menerbitkan lebih dari 25 judul novel, hendak membagikan pengalamannya tersebut.

Wiwid membuka teorinya dengan analogi menggelitik bahwa terapi menulis tak ubahnya kentut. Orang yang gemar menulis itu berarti sehat karena bisa menghirup udara dari luar tanpa perlu masuk rumah sakit. Lebih jauh, Wiwid menemukan persamaan definisi antara gigih dengan istikamah dalam KBBI, yang tak lain maknanya adalah teguh pendirian. Konon, Habiburrahman El Shirazy menulis novel setebal 400 halaman hanya dalam waktu seminggu, atau Pramoedya Ananta Toer dan Hamka yang menulis dari dinginnya lantai penjara.

Menurut Wiwid, gigih tak harus berdarah-darah seperti itu, melainkan berteguh pendirian untuk terus-menerus menulis dengan kuantitas yang sama, entah itu waktu maupun jumlahnya. Jonru Ginting yang terkenal dengan perlawanannya pada “sastra selangkangan” untuk menyebut Ayu Utami cs, memberikan resep lima lembar dalam sehari. Agus Suwiknyo, pemilik majalah Indonesia yang terbit di Mandarin, memberikan resep tiga lembar dalam sehari. Jika terus dilakoni selama tiga bulan, bisa jadi novel setebal 300 halaman. (Halaman 6)

Pada novel perdananya, Orang Miskin Dilarang Sekolah, Wiwid kerap disandingkan dengan Eko Prasetyo, penulis novel berjudul sejenis. Padahal judul novel itu semula adalah Cita-cita Dibangun dari Sebuah Mimpi. Namun ternyata pihak penerbit memiliki strategi sendiri untuk memiripkannya dengan karya yang sudah ada. Di atas segalanya, hal paling fundamental yang harus dimiliki seorang penulis menurut Wiwid adalah motivasi. Misalnya dengan membuat daftar motivasi sebanyak mungkin, menjadikannya sebagai pondasi kokoh bangunan alasan mengapa harus menulis. Saat satu alasan rontok, masih ada lapisan motivasi lain yang lebih kuat.

Ketika menggali sebuah cerita, terkadang diperlukan unsur detail berdasarkan data dan fakta. Ada perbedaan mendasar antara penulis yang sok tahu banyak dengan banyak sok tahu. Sok tahu banyak memang tuntutan agar seorang penulis memperdalam, menguasai, dan menjiwai apa yang ditulisnya. Sementara banyak sok tahu berarti seseorang tidak tahu apa-apa, hanya berpura-pura mengerti banyak hal tetapi ia tidak pernah belajar. (Halaman 23)

Dalam bab Konsultasi Menulis, Wiwid menyatakan teori menulis tak pernah baku dan bukan menjadi satu-satunya sumber kebenaran. Satu teori mungkin dianggap benar bagi seorang penulis, tetapi tidak bagi penulis lain, tergantung dari pengalaman subjektif mereka. Dalam bab ini pula disuguhkan materi berupa konsep tanya jawab tentang berbagai masalah yang lazim dialami penulis pemula seperti writer block, takut tulisan tidak laku, menaklukkan mood, hingga waktu-waktu ajaib untuk menulis.

Selain itu, Wiwid juga memaparkan enam jurus jitu versinya yang beberapa di antaranya sebenarnya tidak mengandung kebaruan karena kerap diungkap dalam silabus menulis serupa, misalnya menulis sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, atau penulis adalah sutradara yang harus bisa menentukan cerita dari awal hingga akhir, sepuluh halaman awal menentukan keberhasilan keseluruhan novel. Namun ada pula saran untuk menahan dan menyisakan persoalan dalam tiap adegan/sub bab yang bertujuan untuk mengundang rasa penasaran pembaca.

Buku ini juga mengulas unsur intrinsik dan ekstrinsik novel secara cukup detail. Tak lupa Wiwid banyak mencatut judul novel dan nama penulis, baik domestik hingga penulis mancanegara sebagai contoh dalam penjelasannya. Meski terbilang tipis dan dapat dibaca sekali duduk, materi di dalam buku ini tetap terasa kaya sebab bukan sekadar menyampaikan teori menulis novel tetapi juga menambah wawasan pembaca dengan informasi tentang dunia sastra dalam dan luar negeri.

*ARINHI NURSECHA, pegiat literasi asal Cikarang Utara, Bekasi

 

Facebook Comments

 
Chat via Whatsapp