Belajar Asyik di Rumah Lewat Homeschooling

30 Agustus 2019 - Kategori Blog

Resensi dimuat di Tribun Jateng, edisi Minggu 11 Agustus 2019

Data buku:

  • Judul: Mencetak Anak Saleh Melalui Homeschooling
  • Penulis: Ummi Nuraini
  • Penerbit: Hanum Publisher
  • Cetakan: 1, 2019
  • Tebal: 194 halaman
  • ISBN: 978-602-52913-2-6

Dunia pendidikan di Indonesia masih dibelenggu berbagai persoalan. Dari soal kurikulum, kualitas guru, ketimpangan sarana prasarana, hingga metode pembelajaran yang monoton, semua masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan seluruh stakeholder di dunia pendidikan kita. Di tengah problem tersebut, era digital berkembang pesat dan membawa dampak dan tantangan tersendiri yang menuntut respon dari dunia pendidikan.

Orangtua dihadapkan pada beragam pilihan terkait pendidikan anaknya. Sementara jalur pendidikan formal masih terus dibelenggu berbagai masalah, muncul beragam alternatif pendidikan untuk anak. Di buku terbaru ini, Ummi Nuraini menyuguhkan homeschooling sebagai saah satu alternatif menjawab berbagai persoalan tersebut. Ketika sekolah dirasa sudah kesulitan memenuhi harapan para orangtua untuk mencerdaskan anak, homeschooling dipandang mampu menjawab harapan tersebut karena berbagai keunggulan dalam proses pendidikannya.

Homeschooling tak sekadar tentang belajar di rumah. Penulis menjelaskan, homeschooling sebagai istilah sistem pendidikan yang populer di luar negeri, terutama di Amerika Serikat, berbeda dengan pola pembelajaran di keluarga yang hanya dijadikan pendamping atau tidak terprogram. Homeschooling merupakan sebuah program sekolah yang dilakukan di rumah dan telah benar-benar dirancang sebagai program mandiri, tersusun sistematis dan terstruktur, bahkan dijadikan sebagai pengganti pendidikan formal di sekolah (hlm 43-44).

Melalui homeschooling, anak berpotensi mendapatkan pengalaman belajar yang lebih intens, lebih interaktif, dan berkesan. Sebab dilandasi kedekatan emosional dengan orangtua sebagai pembimbing dan fasilitator. Hal yang sulit didapatkan di sekolah formal. Di samping itu, metode pembelajaran juga lebih fleksibel. Orangtua dianggap lebih mampu mengarahkan perkembangan anak sesuai bakat dan minatnya. Selain karena lebih mengenal anak secara personal, hal ini juga dikarenakan pembelajaran yang terfokus, sehingga bisa lebih dalam mengeksplore dan mengasah kemampuan anak.  

Selain menjelaskan konsep, sejarah, dan keunggulan sistem homeschooling, buku yang berawal dari skripsi ini juga memaparkan berbagai faktor pendukung, faktor penghambat, beberapa kemampuan yang mesti dimiliki orangtua agar berhasil menjalankan homeschooling untuk anak, berbagai persiapan sebelum menjalankan homeschooling, termasuk memahami berbagai pendekatan, metode, dan kurikulum homeschooling.

Di Indonesia, praktik homeschooling cenderung kurang berkembang, terutama jika dibandingkan dengan di Amerika Serikat (pelaku homeschooling terbanyak). Menurut penulis, bisa jadi karena kekhawatiran orangtua mengenai “akreditasi” yang masih dipandang berbeda dengan sekolah formal, terutama dalam hal persaingan dunia kerja nantinya. Akan tetapi, melihat dunia pendidikan formal (sekolah) yang semakin mengalami distrust di masyarakat, kemajuan IPTEK, globalisasi teknologi informasi dan komunikasi, tak menutup kemungkinan homeschooling akan semakin berkembang di masa depan.

*AL-MAHFUD, penikmat buku, tinggal di Pati, Jawa Tengah

Facebook Comments

 
Chat via Whatsapp