Cara Sukses Menghasilkan Tulisan Berkualitas

30 Agustus 2019 - Kategori Blog

Resensi dimuat di Solopos, edisi Minggu, 25 Agustus 2019

Data buku:

  • Judul: Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu
  • Penulis: Wiwid Prasetyo
  • Penerbit: CV. Hanum Publisher
  • Cetakan: Pertama, Juli 2019
  • Tebal: xii + 143 halaman
  • ISBN: 978-602-90396-4-6

Buku ini ditulis oleh Wiwid Prasetyo—penulis yang sudah menghasilkan lebih dari 25 novel dengan berbagai genre dari novel religi, sejarah hingga pendidikan. Buku ini akan membantu kita dalam memahami cara sukses menjadi penulis yang bisa menghasilkan tulisan berkualitas serta berdedikasi bagi masyarakat.

Sebagaimana kita ketahui, membuat tulisan, baik cerpen, puisi, artikel, resensi  atau  novel  itu tidak mudah. Butuh proses panjang dan usaha keras agar menghasilkan tulisan yang bagus dan berkualitas.  Jika ingin menjadi seorang penulis, kita tidak hanya membutuhkan bakat saja. Namun usaha keras, kesabaran, kegigihan dan istikamah, merupakan salah satu kunci utama dalam meraih kesuksesan sebagai seorang penulis.

Gigih di sini artinya, kita memiliki sikap teguh pendirian untuk terus-menerus menulis dengan kuantitas yang sama. Entah itu dengan memiliki waktu tetap dalam menulis,  ataupun memiliki batas jumlah halaman yang harus ditulis dalam setiap harinya.  Jonru Ginting pernah menyebut Ayu Utami dan beberapa penulis sastra lainya,  memberikan resep lima lembar dalam sehari untuk istikamah menulis. Agus Suwiknyo, yang memiliki sebuah majalah Indonesia yang terbit di Mandarin memberikan tips tiga lembar dalam sehari. Jika ini terus dilakukan selama tiga bulan, maka tulisan itu bisa menjadi novel setebal 300 halaman. (hal 6).

Agar kita bisa menyelesaikan sebuah tulisan, kita juga memerlukan sebuah motivasi, yaitu dorongan yang timbul pada diri sendiri untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan yang diinginkan.  Dengan memiliki motivasi terhadap apa yang kita kerjakan, maka kita akan berjuang  keras untuk mencoba meraihnya. Kita tidak akan mudah menyerah sebelum berhasil  meraih apa yang kita inginkan.

Untuk menjadi penulis kita juga harus  menjadi pembaca yang baik. Karena dengan membaca kita akan menemukan banyak sekali manfaat. Kita bisa menambah kosa kata baru, menumbuhkan daya kreativitas, menambah banyak wawasan serta membangkitkan daya imajinasi kita.

Wiwid Prasetyo menjelaskan, “Seorang penulis yang baik adalah pembaca  yang baik. Maksudnya, seorang penulis tak sekadar membaca buku lantas hilang seiring dengan berlalunya waktu, tetapi ia juga membaca pengalaman, membaca alam, membaca kehidupannya di masa lalu, kemudian mampu menginterupsikan ulang hal-hal yang menarik dengan meramunya dengan bacaan sekarang.” (hal 16).

Di samping  itu, selain harus mulai menulis, kita juga memerlukan riset lapangan, riset buku, pengamatan untuk menggali ide yang lebih dalam. Meskipun kita hanya menulis sebuah cerita, jika tanpa adanya riset yang mendalam, maka tulisan itu akan menjadi kering dan monoton. Karena bagaimanapun sebuah tulisan itu pada dasarnya merupakan kisah yang berasal dari kehidupan sehari-hari di sekitar kita—fiksi tapi  berpijak dari kenyataan.

Berdasarkan pengalaman Wiwid, dia sering kerepotan ketika harus menulis novel dengan tema sejarah yang menghadirkan data dan fakta sejarah. Oleh sebab itu, mau tidak mau dia harus membuka-buka lagi buku yang berkaitan dengan sejarah,  bertanya pada Google atau mengintip Wikipedia untuk keselarasan setting sosial dan fiksi itu sendiri. Begitu juga ketika harus menulis novel bersetting luar negeri,  kita memerlukan riset mendalam agar apa yang kita tulis sesuai dengan fakta yang ada.

Nasirun Purwokartun, ketika hendak menulis Arya Penangsang, dia harus berkeliling dulu ke situs-situs budaya, salah satunya di Grobokan. Seno Gumuro Ajidarma dalam rangka penulisan novelnya Nagabumi berlatar belakang Sriwijaya, ia meminta bantuan arkeolog yang bisa membaca situs yang berhubungan dengan sejarah Sriwijaya. Begitupula dengan Wiwid ketika menulis Orang Cacat Dilarang Sekolah, ia mempelajari banyak buku tentang kelainan genetik Down Syondrome.

“Semakin tulisan kita spesifik, detail dan mampu menggambarkan imajinasi yang gamblang, akan semakin menariklah tulisan kita.” (hal 78).  Masih banyak pembahasan menarik yang akan ditampilkan buku ini agar kita bisa menyelesaikan tulisan yang berkualiatas. Dari cara mengolah ide, membuat judul menarik, penokohan, alur, plot dan banyak lagi.

*RATNANI LATIFAH,  alumni  Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Facebook Comments

 
Chat via Whatsapp