Kunci Meramu Cerita yang Bikin Penasaran

30 Agustus 2019 - Kategori Blog

Resensi dimuat di Tribun Jateng, edisi Minggu 28 Juli 2019

Data Buku:

  • Judul: Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu
  • Penulis: Wiwid Prasetyo
  • Penerbit: Hanum Publisher
  • Cetakan: I, Juli 2019
  • Tebal: xii+143 halaman
  • ISBN: 978-623-90396-4-6

Buku tentang panduan menulis sudah begitu melimpah. Entah menulis artikel, esai, atau karya fiksi berupa puisi, cerpen, atau novel. Setiap buku menyimpan “rahasia” masing-masing bergantung pengalaman penulisnya. Pertengahan tahun 2019 ini, terbit buku berjudul Jurus Jitu Mengarang Novel Bermutu karya Wiwid Prasetyo. Penulis novel laris Orang Miskin Dilarang Sekolah yang sudah dicetak 30.000 eksemplar ini membagi jurus-jurus jitu dalam menulis novel.

Wiwid mengawali dengan hal mendasar dalam menulis, yakni motivasi. Menulis adalah perjalanan panjang. Jadi, motivasi penting sebab menentukan kuatnya kegigihan kita dalam mengarungi proses tersebut. Orang yang punya banyak motivasi menulis bakal punya energi lebih besar saat dihadapkan berbagai problem dalam perjalanan menulisnya. Bagi Wiwid, motivasi ibarat bangunan yang saling menyangga. “Jika salah satu motivasi rontok, anda masih punya cadangan motivasi, atau menggantinya dengan motivasi yang lebih kuat,” tulisanya (hlm. 12).

Motivasi memberi energi kegigihan. Wiwid memandang gigih tak berarti harus “berdarah-darah” seperti Pramoedya atau Buya Hamka yang menulis dari dinginnya lantai penjara, atau menulis selama seminggu tanpa melakukan hal lain kecuali urusan biologis dan salat seperti Habiburrahman El Shirazy. Gigih artinya istiqamah; terus menulis dengan kuantitas sama, entah terkait waktu atau jumlah. Misalnya, rutin membiasakan sehari menulis lima lembar, tiga lembar, atau sehari satu sub judul seperti dilakukan Wiwid.

Selain motivasi dan istiqamah, menulis juga mesti dibekali wawasan. Bagi seorang penulis, membaca adalah kebutuhan. Buku ini menjelaskan bahwa seorang penulis yang baik adalah juga pembaca yang baik. Mulanya, Wiwid adalah pembaca setia serial Lupus dan Wiro Sableng. Pada 2007, ia membaca Laskar Pelangi dan dari sana bertekad membuat kisah serupa dari pengalaman hidup sendiri. Maka, lahirlah novel Orang Miskin Dilarang Sekolah, novel perdana yang mendapat sambutan luar biasa dari pasar. “Dari buku ini, saya bisa meyakinkan orangtua kalau menulis itu pekerjaan yang menjanjikan,” ungkapnya (hlm 16).

Pembahasan bergerak ke intisari buku ini, yakni jurus-jurus jitu menulis novel. 6 jurus dipaparkan Wiwid. Beberapa di antaranya mungkin akrab kita dengar dari buku sejenis, seperti disiplin menulis meski sedikit demi sedikit, menentukan cerita dari awal hingga akhir, dan punya fokus cerita. Jurus yang menarik adalah “menahan dan menyisakan persoalan dalam tiap adegan/sub bab”. Ini tentang strategi membuat pembaca merasa penasaran dan terdorong terus menyimak cerita hingga tuntas. Di sini, Wiwid memberi contoh pengalamannya menulis sebuah novel tentang batik, di mana ceritanya ditahan-tahan bab demi bab dan tidak dikeluarkan secara keseluruhan dalam satu bab.

Buku ini juga menyuguhkan berbagai tips atau kiat menggarap sebuah novel, dari awal hingga akhir. Seperti bagaimana “memintal” benang ide, meramu judul yang populer, unik, dan spesifik, menentukan setting atau latar belakang cerita, membangun karakter tokoh yang kuat, alur dan plot, konflik, sudut pandang, hingga ending.

Wiwid Prasetyo tak sekadar memberi tips dan teknik menulis. Lewat pengalaman menulis lebih dari 25 judul novel berbagai genre, baik religi, sejarah, dan pendidikan, penulis kelahiran Semarang ini menyuguhkan buku panduan menulis yang menarik dan cukup lengkap. Di dalamnya, pembaca bakal mendapatkan rangsangan, motivasi, dan inspirasi menulis dengan gigih, kreatif, dan juga produktif menghasilkan karya-karya yang potensial di pasaran.

*AL MAHFUD, penikmat buku, dari Pati, Jawa Tengah

 

Facebook Comments

 
Chat via Whatsapp